Dalam menyambut masa Kathina yang berlangsung selama satu bulan, ada baiknya kita mengingat dan menelusuri kembali sejarah Kathina. Bagi umat Buddha, masa Kathina erat kaitannya dengan berdana kepada Sangha. Masa Kathina selalu disambut umat Buddha dengan begitu meriah, ini dapat dilihat dari semangat umat Buddha memperingati Kathina dengan berbondong-bondong datang ke Vihara. Mereka dengan perasaan bahagia, dan penuh ketulusan hati melakukan persembahan kepada Sangha.
Peristiwa ini sudah berlangsung beribu-ribu tahun lamanya dan menarik sekali apabila kita telusuri bagaimana sesungguhnya Kathina sampai ditetapkan oleh Sang Buddha Gotama?
Kathina berawal dari kisah sebagai berikut, pada waktu itu Sang Buddha menetap di Savatthi, di hutan Jeta di vihara yang di dirikan oleh Anathapindika. Ketika itu terdapat tiga puluh orang Bhikkhu dari Pava sedang mengadakan perjalanan ke Savatthi untuk bertemu dengan Sang Buddha.
Ketika masa Vassa tiba, mereka belum sampai di Savatthi. Mereka memasuki masa Vassa di Saketa dengan berpikir,
"Sang Buddha tinggal sangat dekat, hanya enam yojana dari sini tetapi kita tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan Sang Buddha".
Setelah menjalankan masa Vassa selama tiga bulan, dengan jubah basah kuyup dan kondisi yang lelah mereka sampai di Savatthi. Setelah memberi hormat, mereka duduk dengan jarak yang pantas.
Sang Buddha berkata,
"O para Bhikkhu, semoga semuanya berjalan dengan baik. Saya berharap kalian mendapatkan sokongan hidup. Selalu penuh persahabatan dan harmonis dalam kelompok. Kamu melewatkan masa Vassa dengan menyenangkan dan tidak kekurangan dalam memperoleh dana makanan".
Kemudian para Bhikkhu menjawab:
"Segala sesuatu berjalan dengan baik, Sang Bhagava. Kami mendapatkan sokongan yang cukup, dalam kelompok selalu penuh persahabatan dan harmonis, dan mendapatkan dana makanan yang cukup. Kami sebanyak tiga puluh orang Bhikkhu dari Pava ke Savatthi untuk bertemu dengan Sang Bhagava, tetapi ketika musim hujan mulai, kami belum sampai di Savatthi untuk bervassa. Kami memasuki masa Vassa dengan penuh kerinduan dan berpikir, Sang Bhagava tinggal dekat dengan kita, enam yojana, tetapi kita tidak mempunyai kesempatan melihat Sang Bhagava. Kemudian kami, setelah menjalankan masa Vassa selama tiga bulan, menjalankan pavarana, hujan, ketika air telah berkumpul, rawa telah terbentuk, dengan jubah yang basah kuyup dan kondisi yang lemah dalam perjalanan yang jauh".
Setelah memberikan wejangan Dhamma, Sang Buddha berkata kepada para Bhikkhu,
"O para Bhikkhu, Saya izinkan untuk membuat jubah Kathina bila menyelesaikan masa Vassa secara lengkap........".
Demikianlah izin membuat jubah Kathina ditetapkan Sang Buddha ketika Beliau tinggal di Savatthi.

Di Vihara dapat dilaksanakan upacara Kathina secara benar apabila di vihara tersebut terdapat paling sedikitnya ada empat bhikkhu yang menjalani masa vassa selama 90 hari secara sempurna, tidak termasuk samanera. Bagi para bhikkhu yang telah melaksanakan masa vassa tersebut sebelumnya melakukan Parisudhi (pensucian batin), dengan cara mengakui kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Sesudah itu mereka bersama melakukan pembacaan patimokha atau pembacaan peraturan - peraturan bagi para bhikkhu.

Upacara yang terpenting dalam memutuskan rantai masa vassa adalah upacara Pavarana yang diselengarakan oleh para bhikkhu yang ber-vassa di tempat itu, dengan cara mereka menyatakan kesiapan dan kesediaannya pada hari terahkir vassa tersebut untuk menerima kritikan, saran dan nasehat serta umpan balik dari para bhikkhu yang senior guna kemajuan batin yang lebih untuk mereka didalam latihannya.

Pavarana yang berasal dari umat adalah sebagai peryataan kepada bhikkhu tertentu terhadap kesediaannya menjadi seponsor dan membantu kebutuhannya untuk suatu jangka waktu tertentu ataupun untuk waktu yang tak terbatas.

Istilah Kathina berasal dari sebilah bambu atau kayu yang dibuat kerangka dimana kain yang akan dijahit dikembangkan terlebih dahulu. Bhikkhu yang tidak trampil untuk menjahit, melakukan dengan cara demikian. Sang Buddha mengizinkan perpanjangan waktu untuk membuat jubah. Biasanya waktu dalam pembuatan jubah hanya pada waktu terahkir bulan dari masa vassa atau musim hujan dibulan kathika. Jika jubah lagi dikerjakan, maka batas itu diperpanjang sepanjang musim dingin. Terlebih lagi dalam pembuatan jubah bhikkhu merupakan peristiwa yang bersejarah.

Bagi para bhikkhu yang akan melaksanakan kathina harus melaksanakan vassa selama tiga bulan penuh lamanya di satu vihara (avasa) dengan lima atau lebih bhikkhu lainya. Kain yang diserahkan kepada sangha cukup membuat ticivara dan sangha setuju dalam satu hari juga menginformasikan kepada bhikkhu yang diberikan kepada Sangha untuk menyatakan terima kasih atau anumodhana. Kain tersebut tidak diperkenankan kain yang bukan miliknya, misalnya kain pinjaman, atau yang diperoleh dengan tidak benar, tentunya kain yang digunakan itu adalah kain yang didapat secara wajar. Kain itu harus segera dibuat jubah, tidak boleh disimpan semalam. Kain yang telah disimpan satu malam tidak boleh di gunakan untuk kain kathina.

Sangha yang memberikan jubah yang harus paling tidak lima bhikkhu dan tidak boleh kurang dari lima bhikkhu karena salah satu ditunjuk untuk menerima kain kathina dan menjahitnya menjadi jubah dan empat lagi membentuk Sangha. Atthakatha Acariya yang menyusun menjelaskan bahwa kain kathina harus diberikan kepada Sangha kepada bhikkhu yang memakai jubah yang lusuk (tua) jika banyak bhikkhu yang demikian, maka kain Kathina diberikan kepada Bhikkhu yang memiliki vassa yang lebih tinggi. Apabila bhikkhu sama masa vassanya, maka kain kathina diberikan kepada bhikkhu maha purissa.

Upacara Kathina

Serangkain Kathina telah hadir dihadapan kita sebagai rasa syukur dan terima kasih para umat kepada para bhikkhu yang telah selesai menjalani masa vassa, maka dipersembahkannya pada bhikkhu sangha sebuah kain untuk dipotong dan dijahit menjadi jubah, yang disebut jubah Kathina (Kathina-Chivara). Upacara khusus tersebut dinamakan Kathina-pinkama. Dalam prosedurnya menurut Vinayaadalah sebagai berikut.

1. Adalah hak Sangha untuk menentukan apakah upacara Kathina dilaksanakan atau tidak.

2. Bila dikehendaki, maka dipilihnya seorang bhikkhu untuk menerima persembahan kain untuk dibuat jubah dari umat.

3. Kain putih yang dipersembahkan dalam prosedur formalitas pada hari Kathina, oleh bhikkhu Sangha diserahkan oleh bhikkhu maka terpilihlah untuk diukur, dipotong dan dijahit sesuai vinaya dan menjadi jubah. Proses ini dibantu oleh Bhikkhu lainya, sesudah selesai, jubah putih tersebut dicucu, dicelup warna kuning dan dikeringkan. Semua prosedur itu harus dilakukan dalam satu hari, dari pagi hingga petang.

4. Jubah-jubah tersebut setelah selesai dikerjakan siap untuk dibagi oleh Sangha, dalam suatu upacara, pada seorang yang berhak menerimanya. Hak para bhikkhu yang bervasa di vihara tersebut atas jubah Kathina.

5. Pada malam harinya, bhikkhu yang terpilih dengan mengenakan jubah Kathina menempati dampar dan kemudian berkhotbah dan berterima kasih apa umat atas dukungannya pada Sangha.

Dalam upacara ini sangat penting dengan tujuan untuk kemanunggalan antara Sangha dan umat sebagai pendukunya dalam menjalani kehidupan ke-bhikkhuan (Pisungsung). Disamping itu dalam upacara Kathina ini mendorong seorang bhikkhu yang baik dan taat dalm sila dan Vinaya serta bagi umat untuk taat dan patuh kepada sila, yang telah disabdakan oleh Sang Buddha “Engkaulah yang harus meningatkan dan memeriksa diri sendiri, Oh para bhikkhu bila dapat menjaga dirimu dengan baik dan selalu sadar maka engkau akan hidup dalam kebahagiaan”

Sanghadana

Di suatu vihara apabila tidak memenuhi syarat diselengarakan upacara Kathina, maka umat dapat menyelenggarakan Sanghadana atau chivaradana. Sanghadana adalah segala bentuk dana (uang atau barang-barang kebutuhan pokok bagi para bhikkhu) yang dipersembahkan pada Sangha melalui seorang atau beberapa bhikkhu, sedangkan chivaradana adalah persembahan berupa jubah bhikkhu. Apabila persembahan dana dipersembahkan kepada Sangha, maka umat dengan tegas menyatakan hal itu sebagai Sanghadana. Sang Buddha bersabda, “berdana pada sangha mempunyai nilai-dhamma yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan berdana pada bhikkhu ataupun pada pribadi Sang Buddha sendiri”.

Hal ini berbeda dengan dana persembahan yang khusus diberikan pada seorang atau beberapa bhikkhu penerima dan bukan pada Sangha. Upacara Kathina diselenggarakan dengan ataupun tanpa kehadiran bhikkhu, maka perlu diperhatikan umat adalah :

1. Seluruh dana yang dipersembahkan harus diserahkan pada Sangha tanpa syarat, misalnya dipotong lebih dahulu oleh panitian untuk kegiatan vihara atau pandita.

2. Tidak dibenarkan sebelum berdana, memberikan isyarat pada sangha, bahwa dana yang terkumpul akan dibagi dengan vihara atau panitia.

3. Bhikkhu yang menerima dana atas Sangha wajib untuk menyerahkan secara utuh kepada Sangha dan tidak dibenarkan untuk mengambilnya demi kepentingan sendirinya atau membagikannya pada orang lain, tanpa seizin Sangha.

Atas keputusan Sangha dan yang terkumpul sebagian atau seluruhnya di danakan kembali untuk kepentingan Sangha atau berbagai macam kegiatan dan keperluan lain yang dibutuhkan oleh vihara atau Sangha.

Dana Kathina

Sebagai umat Buddha hendaknya memiliki pengertian terhadap dana, bukan merasa takut. Dimana berdana merupakan proses dasar dalam berbuat jasa atau kebajikan. Jika kita ingin memperoleh pahala yang baik, dari perbuatan berdana tentunya perlu diketahui bagaimana cara untuk melakukannya dengan benar. Karena itulah kita harus memiliki bekal pengetahuan atau petunjuk untuk meyakinkan bahwa kita mengerti apa yang patut dan tidak patut dilakukan, berkenaan dengan hal itu.

Dalam Sutta Pitaka dana dapat dibedakan menjadi sepuluh macam yaitu; makanan, pakaian atau jubah, kendaraan atau fasilitas transportasi, bunga, dupa, wangi-wangian, keset atau tikar, bahan-bahn untuk alas, obat-obatan, dan lampu atau penerangan.Kesepuluh jenis dari persembahan tersebut dapat dipersembahkan kepada sesama manusia dan binatang pada umumnya. Tetapi binatang mereaka hanya dapat menerima beberapa jenis dari dana tersebut.

Sebagai contoh apabila kita memiliki beras, tetapi kita tidak dapat memberikannya kepada kerbau, karena kerbau tidak makan beras. Sebaliknya kita akan mempersembahkan barang-barang tersebut kepada manusia, seperti orang yang cacat, tuna netra, tuna runggu, cacat mental, fakir miskin, yatim piatu, korban bencana alam, banjir topan, paceklik, peperangan, dan lainnya. Kesepuluh jenis barang ini dapat di danakan atau disumbangkan kepada mereka yang mengalami kesulitan sebagai amal atau dermawan secara umum dengan maksud untuk meringankan beban penderitaan orang lain atau mahluk lain dan untuk mendapatkan atau menumbuhkan kebahagiaan yang lebih besar.

Di dalam Vinaya Pitaka, dana terdiri dari empat macam yang dipersembahkan kepada para Bhikkhu Sangha dan Samanera, yang disebutkan adalah Nisaya atau empat macam kebutuhan pokok, dalam kehidupan sebagai viharawan tentunya tergantung akan empat kebutuhan tersebut, diantaranya; 
(1) Civara atau jubah.
(2) Pindapatta atau makanan dan minuman. 
(3) Senasana atau fasilitas tempat tinggal. 
(4) Bhesajja atau obat-obatan dan peralatan medis lainya.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam berdana, yaitu:
  1. Cetana-sampada
    Kalau saudara Ingin berdana, hendaknya saudara mempunyai pikiran yang ikhlas, senang dan bahagia. Mengenai hal ini adalah:
    • Sebelum berdana merasa senang dan bahagia.
    • Pada waktu berdana merasa senang dan bahagia.
    • Sesudah berdana merasa senang dan bahagia.
    Dari ketiga hal ini, yang paling penting adalah yang ketiga, Walaupun yang kesatu dan kedua juga penting.
    Misalnya : sebelum berdana senang, waktu memberikan ikhlas, sesudahnya menyesal. Ini sangat disayangkan, karena mengurangi nilai kebaikannya. Didalam Kitab Suci dijelaskan, orang yang mempunyai kebiasaan seperti ini, waktu muda ia akan hidup makmur, kaya raya dan sejahtera. Tapi itu semua hanya bertahan separuh umur. Jaya hanya kira-kira sampai lima puluhan tahun, sesudah itu mengalami kemerosotan dan akhirnya menjadi miskin. Yang paling baik dan jasanya dapat bertahan lama adalah merasa bahagia, ikhlas, gembira dan bahagia, baik sebelum, pada saat maupun sesudah berdana.
  2. Vatthu-sampada
    Barang yang didanakan sebaiknya barang-barang yang bersih, yang didapat dari tidak melanggar Negara dan Agama dan dana ini haruslah baik, yang disebut Sami Dana. Janganlah berdana yang tak bisa dipergunakan lagi baik oleh diri sendiri maupun orang lain.
    Dana untuk para Bhikkhu, orang tua, guru, disebut: Puja Dana (dana sebagai persembahan perhormatan). Tidak sama dengan berdana untuk orang miskin, gelandangan, pegawai saudara, ini disebut: Anugaha Dana (berdana sebagai hadiah, sebagai anugerah).
  3. Puggala-sampada
    Berdana kepada siapa? Sang Buddha pernah dituduh seseorang: “Apakah benar Sang Bhagava mengajarkan bahwa berdana kepada orang tidak punya moral itu tidak ada gunanya?” Sang Buddha kemudian menjawab:“Aku tidak pernah mengatakan bahwa berdana tidak ada gunanya, meskipun orang membuang sisa-sisa dari satu panci atau mangkuk kedalam sebuah tambak atau telaga dan mengharap agar para makhluk hidup di dalamnya dapat memperoleh makanan, perbuatan inipun merupakan sumber dari kebaikan, apalagi dana yang diberikan kepada sesama manusia”.Inilah yang Tathagatha ajarkan, (Anguttaranikaya III, 57). Sang Buddha menyatakan: “Berdana kepada Sangha sangat besar jasanya”.
    Di dalam Velumakkha-Sutta disebutkan: “Berdana kepada orang yang bermoral lebih besar jasanya daripada berdana kepada orang yang tidak punya moral. Kepada Sotapanna lebih besar dari orang yang bermoral. Kepada seorang Sakadagami lebih besar dari 100 Sotapanna. Kepada seorang Anagami lebih besar dari 100 Sakadagami. Kepada seorang Arahat lebih besar dari 100 Anagami. Kepada seorang Paccekka Buddha lebih besar dari 100 Arahat. Kepada seorang Sammasam-buddha lebih besar dari 100 Paccekka Buddha. Berdana kepada Sangha lebih besar jasanya dari berdana kepada seorang Samma-sambuddha. Dana kepada Sangha tak pernah sia-sia, sekalipun sampai seratus ribu kalpa lamanya”.
    Berdana kepada sangha itu lebih besar manfaatnya, karena tidak mengenal favoritisme. Berbeda dengan berdana hanya untuk seorang bhikkhu, yang disebut: Puggala Dana (dana untuk individu). Sang Buddha juga menguraikan, masih ada yang lebih besar jasanya daripada berdana untuk Sangha, yaitu melaksanakan sila, sebagai orang awam menjalankan Pancasila lebih besar manfaatnya daripada Sangha Dana, yaitu meditasi sampai mencapai Jhana (tingkatan konsentrasi). Dan yang lebih besar lagi adalah meditasi Vipassana, karena meditasi Vipassana ini akan menumbuhkan Panna (kebijaksanaan). Dengan Panna inilah yang akan dapat membebaskan seseorang dari dukkha untuk selama-lamanya (mencapai kebebasan sempurna nibbana).
    Sang Buddha pernah menyatakan, “Siapa yang suka berdana ia akan dicintai dan disukai”. Ini manfaat yang langsung dapat dipetik pada kehidupan sekarang ini.
    Sedangkan manfaat yang dijelaskan dalam Nidhikhanda Sutta, Samyuta Nikaya I, 2: “Wajah cantik, suara merdu, kemolekkan dan kejelitaan, kekuasaan serta mempunyai banyak pengikut, semua itu dapat diperoleh dari pahala perbuatan baik, yaitu berdana”.
    Ada kalanya, orang berdana hanya karena ingin dipuji dan dicintai, supaya dapat terlahir dialam surga, supaya menjadi kaya dan mempunyai kekuasaan, maka orang itu hanya akan mendapatkan itu saja. Tetapi sesungguhnya ada tujuan yang tertinggi, yaitu untuk mengurangi keserakahan, kemelekatan, kekikiran, kebencian dan untuk dapat mencapai kebebasan (kesucian batin). Maka kalau cita-citanya tinggi seperti itu, tujuan yang tengah-tengah dan bawah pasti akan tercapai juga.
    Orang yang tak suka berdana yang walaupun kecil atau sedikit, ia akan besar keserakahannya, ia akan mengumpulkan dan terus mengumpulkan, nama, kekayaan, pangkat dan pujian. Ia senang mengumpulkan, bahkan mengumpulkan problem, kesan yang tidak baik, pengalaman pahit, kemarahan, kejengkelan dan ketidaksenangan. Orang yang tidak suka berdana ia akan menderita, karena tidak suka melepas miliknya, ia akan semakin melekat, karena tidak bisa melepaskan segalanya. Padahal apa yang kita cintai, apa yang kita miliki toh akhirnya akan ditinggalkan, tidak ada sedikitpun yang dibawa ke alam sana, yang dibawa hanyalah kamma baik dan kamma buruknya. Makan tidak enak, tidur pun tak nyenyak dengan tidak melepas kesan yang buruk, problem yang berhubungan dengan sesama makhluk akan menumbuhkan kebencian dan dendam. Janganlah semua itu disimpan, dikumpulkan, tetapi buang lepaskan semuanya, maka kita akan merasa lega, tentram, damai dan bahagia.
    Hidup ini sudah banyak macam persoalan alamiah, Sang Buddha mengatakan: “Hidup yang bagaimanapun bentuknya adalah dukkha, janganlah menambah persoalan ekstra, lepaskanlah semua itu”. Dan kita bisa mulai berlatih untuk melepas dengan meningkatkan kemurahan hati dan mengurangi kekikiran juga kemelekatan dengan berdana (memberi kepada mereka yang patut menerima). Dana bukan berarti hanya berupa materiil semata: uang, makanan dan barang. Tetapi bisa juga berupa moril: nasehat-nasehat, pertolongan, dorongan, perhatian dan pemberian maaf. Kalau orang yang tidak pernah berdana, maka suatu saat kalau jasa kebaikannya habis pasti ia akan menderita, seperti contoh: Orang punya kacang lima butir, tapi kacang itu hanya dinikmati dan dimakan semuanya. Maka kacang itu habis, akan tetapi kalau misalnya kacang itu disisihkan satu atau dua butir dan ditanam diladang yang baik dan subur, maka kelak jika kacang itu berbuah akan dapat ia nikmati. Seperti halnya orang yang berdana, itu bagaikan orang menanam bibit.
    Orang berdana bagaikan menabung, yaitu menabung kamma baik yang akan bisa menolongnya  dan  yang akan menyelamatkannya.
    Menurut Dhamma, memberi bukan berarti berkurang, namun memberi sesungguhnya adalah bertambah (bertambah kamma baiknya). Didalam Kitab Itivutaka, 18 Sang Buddha menjelaskan: “Seandainya semua makhluk mengetahui seperti Aku (Tathagatha) mengetahui tentang manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati semua yang mereka miliki tanpa membaginya dengan makhluk lain (yang membutuhkan), juga tidak akan membiarkan noda kekikiran mengoda dan menetap didalam batinnya. Bahkan jika apa yang mereka miliki merupakan sedikit makanan terakhir yang dipunyai, mereka tidak akan menikmati tanpa membaginya (berdana), seandainya ada makhluk lain yang sangat membutuhkannya”.
    Kita sebagai umat Buddha, mestinya harus mengerti manfaat yang paling besar dari berdana, yaitu: tidak hanya dipuji, terkenal, menjadi kaya dan terlahir di Alam Dewa. “Manfaat yang paling besar dari berdana adalah bebas dari kekotoran batin”. Kalau ada orang berdana (memberi bantuan) hanya ingin dipuji, maka itu adalah sangatlah rendah, apalagi bila keinginannya untuk dipuji itu tidak didapatkan, pasti kecewa dan menderita.
    Menurut Dhamma, kalau seseorang ingin menjadi kaya, berjuanglah dengan sungguh-sungguh, kerja keras, rajin, tekun, ulet, hemat (tidak boros), jujur dan banyak berbuat baik. Cita-cita itu pasti akan tercapai, karena itu adalah hukumnya.
    Kekayaan tidak bisa didapat hanya dengan cara memohon, berdoa dan sembahyang, namun kekayaan bisa didapat kalau orang bekerja atau berkarya menurut hukum kebenaran.





# berikut sedikit catatan penulis tentang masa Vassa :
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan masa vassa ini, dalam Kitab Suci Tipitika bagian Vinaya Pitika, Mahavagga Vassupaniyikakkhandhaka, Sang Buddha bersabda, :

“Anujanami Bhikkhave vassane vassam upagantum dwe
Ma bhikkhave vassupaniyikaya purimika pacchimika
Aparajju-gataya asalhiya purimika upagantabha”

Artinya : Secara jelas ringkas bahwa masa vassa haruslah dilaksanakan oleh para Bhikkhu. Selama masa vassa itu terdapatlah hari yang pertama untuk memulai dan terdapat hari penutup guna mengakhirinya.

Masa vassa menurut tradisi pada musim penghujan bagi para bhikkhu harus berdiam diri disuatu tempat dan mentaati aturan-aturan vassa. Massa vassa ini berlangsung selama 90 hari dimulai sehari sesudah purnama-sidhi bulan kedelapan (Asalhamasa) dan diahkiri pada purnamasidhi bulan kesebelas (Assajujamasa), menurut system perhitungan sekarang jatuh pada bulan oktober.

Menurut tahun kabisat, dimana terdapat bulan Asalha ganda, maka dengan sendirinya masa vassa dimulai sehari sesudah purnamasidhi bulan Asadha yang kedua dan bukan yang pertama. Hari Asadha kala purnama-sidhi adalah patokan, untuk memulai masa vassa. Masa vassa dimulainya bila memasuki konstelasi Asadha, namun pada tahun kabisat haruslah dimulai 30 hari kemudian. Malam menjelang hari penutupan masa vassa yaitu dikala purnama-sidhi bulan assayuja, yang diselenggarakan pavarana dan upacara persembahan yang secara umum dengan hari Kathina. Upacara Kathina akan berlangsung mulai hari pertama bulan menyusut (tanggal 16) bulan Assyuja sampai purnama-sidhi, namun ini hakekatnya akan berlangsung selama satu bulan untuk memberi kesempatan pada umat guna mempersembahkan dana kepada Sangha.

Sebelum hari Asadha, para bhikkhu sangha sudah mulai berikran untuk memasuki masa vassa dalam berdiam diri selama tiga bulam di vihara yang mereka tempati. Meskipun hari bepergian menginap selama tujuh hari berturu-turut, maka masa vassa menjadi gugur dan dianggap tidak ada vassa. Masa kebhikkhuan seorang bhikkhu dari tradisi Theravada, tergantungberapa lama dalam menjalani masa vassa itu dengan baik.Bisa saja bagi seorang bhikkhu yang sudah menjadi bhikkhu selama 10 tahun namun baru menjalani lima vassa.

Mengenai upacara untuk memasuki vassa, dalam Kitab Pali hanyalah dikatakan bagi seorang bhikkhu harus memutuskan atau bertekad untuk hidup di vihara selama tiga bulan. Selama masa vassa bagi para bhikkhu harus berlatih dengan tenang dan dilarang untuk membuat peraturan yang tidak sesuai dengan dhamma. Selaui itu ada peraturan yang harus dilaksanakan dan dijalankan oleh para bhikkhu selama masa vassa yaitu : tidak meninggalkan tempat tinggal selama lebih tujuh hari yang disebut sattaha karaniya (tujuh hari untuk apa yang harus dikerjakan) atau sattha pendek. Jika tidak, maka vassa bhikkhu itu tidak berlaku lagi.Seorang bhikkhu diperbolehkan meninggalkan tempat apabila mempunyai tujuan untuk mengunjungi ayah, ibu atau bhikkhu-bhikkhu lain yang sakit, mencegah seorang bhikkhu yang lainya untuk lepas jubah dan ia dating untuk menasehatinya agar tetap bertahan dalam latihannya, mencari bahan-bahan untuk membangun vihara yang hancu dan yang terahir memberikan keyakian terhadap umat yang ingin meningkatkan kusala-kamma.

Selain kepentingan tersebut bagi para bhikkhu diperbolehkan untuk pergi apabila ada hal-hal yang tidak layak untuk bertahan ditempat itu dalam menjalankan masa vassanya. Dimana para bhikkhu yang tidak dapat tinggal lebih lama dan harus pergi maka masa vassa mereka rusak akan tetapi mereka tidak jatuh dalam apatti (kesalahan) apabila tempat ia tinggal selama masa vassa ada bahaya. Dalam kitab suci pali bahaya tersebut adalah para bhikkhu diganggu oleh binatang buas, perampok, atau hantu-hantu. Pondok-pondok mereka terbakar, atau hanyut oleh bencana alam, sulitnya untuk mendapatkan dana makanan, ada para wanita yang menganggunya, terjadinya suatu perpecahan dalam sangha dimana bhikkhu berusaha untuk mendamaikannya. Tiga bulan masa vassa seorang bhikkhu di ahkiri dengan pavarana, para bhikkhu berkesedian untuk dikeritik dan setelah itu selesai dilanjutkan dengan upacara Kathina pun telah tiba.




Komentar