Latar belakang Ulambana
Dalam tradisi Buddhis, Ulambana dilaksanakan setiap bulan 7 penanggalan kalender China/Lunar.
Upacara Ulambana ini bertujuan untuk mendoakan arwah para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia.
Ulambana sendiri dikisahkan bermula dari seorang murid Buddha yang memiliki kesaktian luar biasa, yaitu Maha Mogallana. Suatu saat Maha Mogallana ingin mencari di mana Ibundanya berada setelah meninggal dunia.
Dengan menggunakan kesaktiannya, Maha Mogallana mencari Ibunya ke surga, tapi Ibunya tidak ditemukan. Lalu Beliau mencarinya ke neraka, dan ternyata ia menemukan Bundanya ada di salah satu alam neraka, sedang mengalami siksaan.
Dengan merasa iba, Maha Mogallana berniat untuk menolong ibunya.
Beliau mencoba menolong dengan memberikan makanan dan minuman yang dibuat dengan menggunakan kesaktiannya, namun sesampainya di tangan Ibunya, semua makanan dan minuman itu berubah menjadi bara api.
Maha Mogallana akhirnya menemui Raja Yama (Raja Neraka) untuk menanyakan hal ini.
Raja Yama memberitahu untuk dapat menolong Ibunya maka sebaiknya Beliau bertanya kepada Sang Buddha.
Maka Mogallana pun kembali ke dunia untuk menemui Sang Buddha dan menanyakan hal tersebut.
Beliau menanyakan kepada Sang Buddha bagaimana cara untuk menolong Ibunya yang ada di neraka.
Sang Buddha pun memberitahu Maha Mogallana untuk melakukan pelimpahan jasa pahala untuk Ibunya dengan melakukan perbuatan baik. Buddha menganjurkan untuk dia memberikan dana makanan kepada 500 orang arahat yang baru selesai melakukan masa Vassa, sebagai bentuk bakti kepada ibunya dan melimpahkan jasa pahala dari perbuatan itu kepada ibunya.
Setelah melaksanakan perbuatan ini, maka Ibunya pun dapat terbebas dari alam neraka.
Berawal dari kisah inilah, maka dapat disimpulkan bahwa Ulambana adalah bulan bakti kepada orang tua dan leluhur.
Di sini kita mengenang kembali semua jasa-jasa mereka selama membesarkan kita, tidak hanya kepada leluhur kita yang sudah meninggal dunia, tapi juga kepada orang tua kita yang masih hidup.
Apakah PATTIDANA (PELIMPAHAN JASA) itu?
Banyak sudah sanak keluarga kita yang sudah meninggal dan kita tidak tahu dimana mereka terlahir kembali. Seandainya mereka terlahir kembali sebagai manusia atau Dewa (alam-alam bahagia), maka itu tidak menjadi masalah. Tetapi bisa mereka terlahir di alam sengsara (Azura dan Peta), maka mereka sangat membutuhkan pertolongan untuk dapat terlahir di alam yang lebih baik.
Yang dapat memberikan pertolongan itu salah satunya adalah keluarganya yang masih hidup saat ini. Caranya adalah dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik atas nama mereka dan melakukan Upacara Pelimpahan Jasa yang dikenal dengan Upacara Pattidana (Pelimpahan Jasa).
Sebenarnya, Upacara ini dapat dilakukan kapan saja.
Namun karena adanya kepercayaan yang meyakini bahwa pada pertengahan bulan 7 penanggalan China, pintu alam sengsara dibuka dan para arwah dibiarkan keluar untuk mencari makanan/sesajian yang dipersembahkan oleh keluarga untuk mereka.
Tirokudda Sutta
Di balik dinding-dinding mereka berdiri dan menunggu
Juga di perempatan dan pertigaan jalan
Mereka kembali ke rumah-rumah yang pernah mereka huni
mereka menunggu di pinggir kusen-kusen pintu
Namun ketika di adakan pesta besar dengan sesajian makanan dan minuman yang beraneka macam
Ternyata tak seorang pun yang mengingat makhluk-makhluk itu, akibat dari perbuatan mereka di masa lampau
Demikianlah mereka yang hatinya penuh welas asih melimpahkan kepada sanak keluarga yang telah meninggal
Persembahan makanan dan minuman dengan tulus
Yang terbaik dan sesuai dengan saat ini
Semoga jasa-jasa ini melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal
Semoga para sanak keluarga berbahagia
Para sanak keluarga yang menjadi makhluk Peta yang hadir dan berkumpul di sana
Dengan bersemangat akan memberikan berkah mereka untuk persembahan makanan dan minuman berlimpah yang mereka terima
"Semoga sanak keluarga panjang usia sebab merekalah, kami menerima persembahan ini. Untuk persembahan yang telah kami terima, si pemberi akan menerima buah dari perbuatan mereka."
Karena di alam peta tidak ada pertanian-perkebunan, juga tidak ada peternakan.
Tidak ada perdagangan, juga tidak ada pertukaran uang emas.
Maka sanak keluarga yang menjadi makhluk peta hidup atas pelimpahan jasa dari sini
Seperti air yang terjun dari atas bukit mengalir ke bawah menuju lembah ngarai
Demikianlah persembahan yang diberikan di sini dapat berguna bagi sanak keluarga yang menjadi makhluk Peta
"Ia banyak memberikan kepadaku, ia telah bekerja untukku, dan ia adalah sanak keluargaku, temanku atau kekasihku."
Berikanlah persembahan untuk mereka yang telah meninggal sambil mengenang apa yang telah mereka lakukan.
Bukan tetesan air mata, bukan juga ratap tangis, bukan juga semua jenis perkabungan dapat menolong mereka yang telah meninggal dunia.
Itulah yang selama ini dilakukan oleh para keluarga yang ditinggalkan.
Akan tetapi apabila persembahan jasa diberikan kepada Sangha atas nama mereka, maka akan dapat menolong mereka dalam waktu yang lama di masa datang maupun di masa sekarang.
Kewajiban Dhamma untuk keluarga telah dipertunjukkan
Dan bagaimana pelimpahan jasa kepada yang telah meninggal dilaksanakan
Dan bagaimana Para Bhikkhu telah diberikan kekuatan dan betapa besar jasa kebajikan yang telah Anda perbuat.
Arogyena sukhena ca'ti
Hotu te jayamangalang
Sotthi te hotu sabbada
Sabbe satta sabbadukkha pamuccantu
Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Dalam tradisi Buddhis, Ulambana dilaksanakan setiap bulan 7 penanggalan kalender China/Lunar.
Upacara Ulambana ini bertujuan untuk mendoakan arwah para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia.
Ulambana sendiri dikisahkan bermula dari seorang murid Buddha yang memiliki kesaktian luar biasa, yaitu Maha Mogallana. Suatu saat Maha Mogallana ingin mencari di mana Ibundanya berada setelah meninggal dunia.
Dengan menggunakan kesaktiannya, Maha Mogallana mencari Ibunya ke surga, tapi Ibunya tidak ditemukan. Lalu Beliau mencarinya ke neraka, dan ternyata ia menemukan Bundanya ada di salah satu alam neraka, sedang mengalami siksaan.
Dengan merasa iba, Maha Mogallana berniat untuk menolong ibunya.
Beliau mencoba menolong dengan memberikan makanan dan minuman yang dibuat dengan menggunakan kesaktiannya, namun sesampainya di tangan Ibunya, semua makanan dan minuman itu berubah menjadi bara api.
Maha Mogallana akhirnya menemui Raja Yama (Raja Neraka) untuk menanyakan hal ini.
Raja Yama memberitahu untuk dapat menolong Ibunya maka sebaiknya Beliau bertanya kepada Sang Buddha.
Maka Mogallana pun kembali ke dunia untuk menemui Sang Buddha dan menanyakan hal tersebut.
Beliau menanyakan kepada Sang Buddha bagaimana cara untuk menolong Ibunya yang ada di neraka.
Sang Buddha pun memberitahu Maha Mogallana untuk melakukan pelimpahan jasa pahala untuk Ibunya dengan melakukan perbuatan baik. Buddha menganjurkan untuk dia memberikan dana makanan kepada 500 orang arahat yang baru selesai melakukan masa Vassa, sebagai bentuk bakti kepada ibunya dan melimpahkan jasa pahala dari perbuatan itu kepada ibunya.
Setelah melaksanakan perbuatan ini, maka Ibunya pun dapat terbebas dari alam neraka.
Berawal dari kisah inilah, maka dapat disimpulkan bahwa Ulambana adalah bulan bakti kepada orang tua dan leluhur.
Di sini kita mengenang kembali semua jasa-jasa mereka selama membesarkan kita, tidak hanya kepada leluhur kita yang sudah meninggal dunia, tapi juga kepada orang tua kita yang masih hidup.
Apakah PATTIDANA (PELIMPAHAN JASA) itu?
Banyak sudah sanak keluarga kita yang sudah meninggal dan kita tidak tahu dimana mereka terlahir kembali. Seandainya mereka terlahir kembali sebagai manusia atau Dewa (alam-alam bahagia), maka itu tidak menjadi masalah. Tetapi bisa mereka terlahir di alam sengsara (Azura dan Peta), maka mereka sangat membutuhkan pertolongan untuk dapat terlahir di alam yang lebih baik.
Yang dapat memberikan pertolongan itu salah satunya adalah keluarganya yang masih hidup saat ini. Caranya adalah dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik atas nama mereka dan melakukan Upacara Pelimpahan Jasa yang dikenal dengan Upacara Pattidana (Pelimpahan Jasa).
Sebenarnya, Upacara ini dapat dilakukan kapan saja.
Namun karena adanya kepercayaan yang meyakini bahwa pada pertengahan bulan 7 penanggalan China, pintu alam sengsara dibuka dan para arwah dibiarkan keluar untuk mencari makanan/sesajian yang dipersembahkan oleh keluarga untuk mereka.
Tirokudda Sutta
Di balik dinding-dinding mereka berdiri dan menunggu
Juga di perempatan dan pertigaan jalan
Mereka kembali ke rumah-rumah yang pernah mereka huni
mereka menunggu di pinggir kusen-kusen pintu
Namun ketika di adakan pesta besar dengan sesajian makanan dan minuman yang beraneka macam
Ternyata tak seorang pun yang mengingat makhluk-makhluk itu, akibat dari perbuatan mereka di masa lampau
Demikianlah mereka yang hatinya penuh welas asih melimpahkan kepada sanak keluarga yang telah meninggal
Persembahan makanan dan minuman dengan tulus
Yang terbaik dan sesuai dengan saat ini
Semoga jasa-jasa ini melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal
Semoga para sanak keluarga berbahagia
Para sanak keluarga yang menjadi makhluk Peta yang hadir dan berkumpul di sana
Dengan bersemangat akan memberikan berkah mereka untuk persembahan makanan dan minuman berlimpah yang mereka terima
"Semoga sanak keluarga panjang usia sebab merekalah, kami menerima persembahan ini. Untuk persembahan yang telah kami terima, si pemberi akan menerima buah dari perbuatan mereka."
Karena di alam peta tidak ada pertanian-perkebunan, juga tidak ada peternakan.
Tidak ada perdagangan, juga tidak ada pertukaran uang emas.
Maka sanak keluarga yang menjadi makhluk peta hidup atas pelimpahan jasa dari sini
Seperti air yang terjun dari atas bukit mengalir ke bawah menuju lembah ngarai
Demikianlah persembahan yang diberikan di sini dapat berguna bagi sanak keluarga yang menjadi makhluk Peta
"Ia banyak memberikan kepadaku, ia telah bekerja untukku, dan ia adalah sanak keluargaku, temanku atau kekasihku."
Berikanlah persembahan untuk mereka yang telah meninggal sambil mengenang apa yang telah mereka lakukan.
Bukan tetesan air mata, bukan juga ratap tangis, bukan juga semua jenis perkabungan dapat menolong mereka yang telah meninggal dunia.
Itulah yang selama ini dilakukan oleh para keluarga yang ditinggalkan.
Akan tetapi apabila persembahan jasa diberikan kepada Sangha atas nama mereka, maka akan dapat menolong mereka dalam waktu yang lama di masa datang maupun di masa sekarang.
Kewajiban Dhamma untuk keluarga telah dipertunjukkan
Dan bagaimana pelimpahan jasa kepada yang telah meninggal dilaksanakan
Dan bagaimana Para Bhikkhu telah diberikan kekuatan dan betapa besar jasa kebajikan yang telah Anda perbuat.
Arogyena sukhena ca'ti
Hotu te jayamangalang
Sotthi te hotu sabbada
Sabbe satta sabbadukkha pamuccantu
Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Komentar
Posting Komentar