Orang-orang zaman sekarang tidak selalu merawat orang tua mereka.
Di zaman yang makin modern ini, anak cenderung lebih sering memutuskan untuk mencarikan sebuah lembaga, untuk merawat orang tua mereka saat sudah berumur.
Akan tetapi mereka tidak berpikir, dengan mereka tidak memberikan sokongan / pelayanan yang layak atau bahkan sampai menelantarkan orang tua mereka yang sudah tua saat ini, ada kemungkinan mereka juga akan harus mengalami hal yang serupa ketika mereka beranjak tua nanti.
Mereka juga menjadi lupa, bagaimana ketika kecil dulu, orang tualah yang merawatnya, sehingga anaknya dapat bertumbuh dewasa seperti sekarang.
Hal ini sangat kontras dengan Ajaran Buddha yang mengajarkan bahwa hutang budi anak-anak kepada orang tuanya begitu besar sehingga tidak akan pernah dapat dilunasi hanya dengan sekedar dukungan materi.
Seseorang harus tetap memberikan dukungan berupa materi ini, akan tetapi dukungan dalam bentuk Dhamma juga harus diberikan kepada mereka.
Karena adalah sangat bagus untuk memperkenalkan Dhamma kepada orang tua.
Apakah mereka kikir?
Ajarkanlah mereka tentang kedermawanan beserta manfaatnya.
Barangkali perilaku moral mereka tidak baik dalam beberapa hal?
Maka tuntunlah mereka untuk melihat bahaya dari perilaku yang tidak baik itu.
Atau mungkin mereka kurang dalam hal pemahaman?
Bukakanlah gerbang Dhamma sehingga mereka memahami baik dan buruk, fenomena sebab akibat yang terjadi, dan sebagainya.
Hanya dengan cara seperti ini, budi orang tua dapat dibalas oleh anak-anaknya.
Orang tua sepantasnya haruslah dihormati.
Sang Buddha menyebut mereka sebagai Dewa (Brahmã) dan sudah pasti lebih baik memberikan penghormatan kepada mereka melalui pelayanan penuh bakti dan cinta kasih yang akan membawa kebahagiaan bagi mereka di dalam usia mereka yang semakin senja.
Seorang umat Buddha yang baik berpikir dan bertindak terhadap orang tuanya dengan cara seperti ini:
"Saya yang telah disokong mereka, akan menyokong mereka; Saya akan melakukan pekerjaan mereka untuk mereka; Saya akan melanjutkan tradisi keluarga mereka; Saya akan membuat diriku pantas memperoleh warisan yang diperuntukkan untukku; Saya akan senantiasa membuatkan mereka persembahan ketika mereka telah meninggal."
Inilah kata-kata yang diucapkan Sang Buddha kepada pemuda Sigãla.
Sehubungan dengan poin yang terakhir tentang memberikan persembahan, yang dimaksud disini adalah praktek umat Buddha yang terkenal, yaitu memberikan sedekah atau berdana (kepada para bhikkhu maupun orang lain).
Pada peringatan hari kematian dan mendedikasikan jasa kebajikan yang telah dilakukan kepada mereka yang telah meninggal.
Dengan cara ini, orang tua disokong meskipun mereka sudah tiada di kehidupan sekarang. Hal ini merupakan suatu berkah bagi mereka yang sangat baik dan tahu balas budi, karena mereka memiliki kesempatan untuk melakukan banyak kamma baik yang dapat dilimpahkan untuk orang tuanya yang telah tiada.
Namun bagaimana pun juga, adalah yang terbaik, jika kita mampu menyokong, merawat, melayani orang tua kita dan memperkenalkan Dhamma kepada orang tua kita, selagi Beliau masih hidup, dibandingkan jika hanya melimpahkan jasa kebajikan ketika Beliau sudah tiada.
Di zaman yang makin modern ini, anak cenderung lebih sering memutuskan untuk mencarikan sebuah lembaga, untuk merawat orang tua mereka saat sudah berumur.
Akan tetapi mereka tidak berpikir, dengan mereka tidak memberikan sokongan / pelayanan yang layak atau bahkan sampai menelantarkan orang tua mereka yang sudah tua saat ini, ada kemungkinan mereka juga akan harus mengalami hal yang serupa ketika mereka beranjak tua nanti.
Mereka juga menjadi lupa, bagaimana ketika kecil dulu, orang tualah yang merawatnya, sehingga anaknya dapat bertumbuh dewasa seperti sekarang.
Hal ini sangat kontras dengan Ajaran Buddha yang mengajarkan bahwa hutang budi anak-anak kepada orang tuanya begitu besar sehingga tidak akan pernah dapat dilunasi hanya dengan sekedar dukungan materi.
Seseorang harus tetap memberikan dukungan berupa materi ini, akan tetapi dukungan dalam bentuk Dhamma juga harus diberikan kepada mereka.
Karena adalah sangat bagus untuk memperkenalkan Dhamma kepada orang tua.
Apakah mereka kikir?
Ajarkanlah mereka tentang kedermawanan beserta manfaatnya.
Barangkali perilaku moral mereka tidak baik dalam beberapa hal?
Maka tuntunlah mereka untuk melihat bahaya dari perilaku yang tidak baik itu.
Atau mungkin mereka kurang dalam hal pemahaman?
Bukakanlah gerbang Dhamma sehingga mereka memahami baik dan buruk, fenomena sebab akibat yang terjadi, dan sebagainya.
Hanya dengan cara seperti ini, budi orang tua dapat dibalas oleh anak-anaknya.
Orang tua sepantasnya haruslah dihormati.
Sang Buddha menyebut mereka sebagai Dewa (Brahmã) dan sudah pasti lebih baik memberikan penghormatan kepada mereka melalui pelayanan penuh bakti dan cinta kasih yang akan membawa kebahagiaan bagi mereka di dalam usia mereka yang semakin senja.
Seorang umat Buddha yang baik berpikir dan bertindak terhadap orang tuanya dengan cara seperti ini:
"Saya yang telah disokong mereka, akan menyokong mereka; Saya akan melakukan pekerjaan mereka untuk mereka; Saya akan melanjutkan tradisi keluarga mereka; Saya akan membuat diriku pantas memperoleh warisan yang diperuntukkan untukku; Saya akan senantiasa membuatkan mereka persembahan ketika mereka telah meninggal."
Inilah kata-kata yang diucapkan Sang Buddha kepada pemuda Sigãla.
Sehubungan dengan poin yang terakhir tentang memberikan persembahan, yang dimaksud disini adalah praktek umat Buddha yang terkenal, yaitu memberikan sedekah atau berdana (kepada para bhikkhu maupun orang lain).
Pada peringatan hari kematian dan mendedikasikan jasa kebajikan yang telah dilakukan kepada mereka yang telah meninggal.
Dengan cara ini, orang tua disokong meskipun mereka sudah tiada di kehidupan sekarang. Hal ini merupakan suatu berkah bagi mereka yang sangat baik dan tahu balas budi, karena mereka memiliki kesempatan untuk melakukan banyak kamma baik yang dapat dilimpahkan untuk orang tuanya yang telah tiada.
Namun bagaimana pun juga, adalah yang terbaik, jika kita mampu menyokong, merawat, melayani orang tua kita dan memperkenalkan Dhamma kepada orang tua kita, selagi Beliau masih hidup, dibandingkan jika hanya melimpahkan jasa kebajikan ketika Beliau sudah tiada.
Komentar
Posting Komentar