Cerita 1 :
Musim kemarau baru saja mulai.
Seekor burung pipit memutuskan untuk terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin & sejuk.
Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk.
Dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, & akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju.
Si burung pipit tak mampu berbuat apa-apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat. Dia merintih menyesali nasibnya.
Seekor kerbau yang kebetulan lewat datang menghampiri.
Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor kerbau, yang tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.
Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut.
Si burung semakin marah & memaki.
Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, & mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung.
Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau.
Si burung mengira lagi bahwa dia pasti akan mati tak bisa bernapas.
Namun perlahan-lahan dia merasakan kehangatan.
Salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega & melihat kembali langit yang cerah.
Si burung pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas-puasnya.
Apa yang t a m p a k lebih baik, terkadang belum tentu cocok buat kita.
Dimanapun kita berada & bekerja tetap semangat, bersyukur dan nikmatilah.
Baik buruknya penampilan sesuatu, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran.
Sesuatu yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, terkadang memberi hikmah yang menyenangkan.
Cerita 2 :
Suatu hari di sebuah desa,
ada sebuah keluarga yang punya 2 anak.
Anak pertama:
Patuh, rajin, & sangat baik pada orang tua maupun pada yg lain.
Anak kedua:
Bandel, kesana kemari, pergaulan kurang baik,
hingga akhirnya kabur dari rumah karena tidak tahan di marahi terus oleh ayahnya.
Walaupun di rumahnya ada 1 anak yang baik,
namun Sang Ayah tetap memikirkannya.
Sampai akhirnya,
si anak yang kabur tersebut SADAR & balik pulang ke rumah.
Sang Ayah merasa senang sekali,
serta malah menjadi Lebih Bangga padanya daripada anaknya yang pertama.
Si anak Pertama yang tadinya baik sekali menjadi Iri hati, dengki & penuh kebencian terhadap adiknya,
karena ia merasa di lupakan.
Sedangkan si adik jadi penurut & Baik sekali terhadap siapapun juga,
karena sudah TERTANAM KESADARAN dalam dirinya.
Terkadang Orang yang Baik bisa berubah menjadi kurang Baik,
k a r e n a kurangnya pendalaman Keyakinan,
a p a l a g i bila merasa dirinya sudah Baik dari yang lain.
Namun kebalikkannya,
Terkadang Orang yang sudah Salah jalan sampai Hancur Lebur,
malah Lebih bisa memahami Hidup,
menjadi Lebih Sopan, Lebih Menghargai & Lebih Bijaksana,
k a r e n a dia telah mengalami bagaimana pahitnya kehidupan.
Dhammapada 172
Seseorang yang sebelumnya pernah "lalai" tetapi kemudian dia "bangkit" maka dia akan menerangi dunia ini. Bagaikan Bulan yang bersinar dan terbebas dari awan
HITAM TIDAK SELAMANYA HITAM,
PUTIH JUGA TIDAK SELAMANYA PUTIH,
BELAJAR DI ANTARA HITAM & PUTIH,
MAKA SESEORANG AKAN MENGERTI JALAN YANG BENAR ADANYA MENUJU KEBIJAKSANAAN DIRI.
Jikalau si pencemooh kau "pukul", barulah orang yang tak berpengalaman menjadi bijak,
jikalau orang yang berpengertian ditegur, ia menjadi insaf dan sadar diri.
Semoga dua cerita di atas menjadi pelajaran dan perenungan untuk kita semua.
Musim kemarau baru saja mulai.
Seekor burung pipit memutuskan untuk terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin & sejuk.
Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk.
Dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, & akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju.
Si burung pipit tak mampu berbuat apa-apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat. Dia merintih menyesali nasibnya.
Seekor kerbau yang kebetulan lewat datang menghampiri.
Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor kerbau, yang tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.
Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut.
Si burung semakin marah & memaki.
Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, & mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung.
Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau.
Si burung mengira lagi bahwa dia pasti akan mati tak bisa bernapas.
Namun perlahan-lahan dia merasakan kehangatan.
Salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega & melihat kembali langit yang cerah.
Si burung pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas-puasnya.
Apa yang t a m p a k lebih baik, terkadang belum tentu cocok buat kita.
Dimanapun kita berada & bekerja tetap semangat, bersyukur dan nikmatilah.
Baik buruknya penampilan sesuatu, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran.
Sesuatu yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, terkadang memberi hikmah yang menyenangkan.
Cerita 2 :
Suatu hari di sebuah desa,
ada sebuah keluarga yang punya 2 anak.
Anak pertama:
Patuh, rajin, & sangat baik pada orang tua maupun pada yg lain.
Anak kedua:
Bandel, kesana kemari, pergaulan kurang baik,
hingga akhirnya kabur dari rumah karena tidak tahan di marahi terus oleh ayahnya.
Walaupun di rumahnya ada 1 anak yang baik,
namun Sang Ayah tetap memikirkannya.
Sampai akhirnya,
si anak yang kabur tersebut SADAR & balik pulang ke rumah.
Sang Ayah merasa senang sekali,
serta malah menjadi Lebih Bangga padanya daripada anaknya yang pertama.
Si anak Pertama yang tadinya baik sekali menjadi Iri hati, dengki & penuh kebencian terhadap adiknya,
karena ia merasa di lupakan.
Sedangkan si adik jadi penurut & Baik sekali terhadap siapapun juga,
karena sudah TERTANAM KESADARAN dalam dirinya.
Terkadang Orang yang Baik bisa berubah menjadi kurang Baik,
k a r e n a kurangnya pendalaman Keyakinan,
a p a l a g i bila merasa dirinya sudah Baik dari yang lain.
Namun kebalikkannya,
Terkadang Orang yang sudah Salah jalan sampai Hancur Lebur,
malah Lebih bisa memahami Hidup,
menjadi Lebih Sopan, Lebih Menghargai & Lebih Bijaksana,
k a r e n a dia telah mengalami bagaimana pahitnya kehidupan.
Dhammapada 172
Seseorang yang sebelumnya pernah "lalai" tetapi kemudian dia "bangkit" maka dia akan menerangi dunia ini. Bagaikan Bulan yang bersinar dan terbebas dari awan
HITAM TIDAK SELAMANYA HITAM,
PUTIH JUGA TIDAK SELAMANYA PUTIH,
BELAJAR DI ANTARA HITAM & PUTIH,
MAKA SESEORANG AKAN MENGERTI JALAN YANG BENAR ADANYA MENUJU KEBIJAKSANAAN DIRI.
Jikalau si pencemooh kau "pukul", barulah orang yang tak berpengalaman menjadi bijak,
jikalau orang yang berpengertian ditegur, ia menjadi insaf dan sadar diri.
Semoga dua cerita di atas menjadi pelajaran dan perenungan untuk kita semua.
Komentar
Posting Komentar