Mereka yang di masa lalu belum mengumpulkan jasa kebajikan tidak akan menjadi orang-orang yang baik hati dan tidak akan senang pada Ajaran Buddha.
Mereka tidak akan menghargai kedamaian dan tidak akan menghargai jalan keluhuran.
Karena otomatis mereka akan salah memahaminya.
Salah memahami Buddha, Dhamma dan Sangha serta Ajaran Buddha menunjukkan bahwa betapa dangkalnya jasa kebajikan mereka di kehidupan lampau.
Tak seorang pun bisa membujuk mereka untuk berusaha lebih memahami Dhamma ataupun bermeditasi, karena mereka tidak dapat melihat manfaat dari itu semua.
Mereka bahkan tidak akan senang bila melakukannya.
Pada akhirnya, mereka tidak akan dekat dengan Tiratana.
Sebaliknya, mereka yang telah terbiasa mengembangkan kebajikan, Pikiran mereka akan tertarik pada perbuatan baik sesuai dengan Hukum Karma.
Orang- orang seperti ini ingin melakukan lebih banyak dan makin banyak lagi kebajikan.
Mereka akan bahagia dengan cara kehidupan seperti ini.
Sebaliknya, mereka tidak akan bahagia melakukan perbuatan buruk
Hal yang berlawanan juga berlaku untuk orang-orang yang belum mengembangkan kebajikan dalam diri mereka.
Semua orang berbeda satu sama lain, beberapa memiliki lebih banyak kewaspadaan dan kebijaksanaan. Tidak semuanya sama, karena pikiran mereka pun berbeda. Orang yang tidak bisa menembus intisari Dhamma tidak mungkin bisa menyadarinya.
Tetapi mereka yang mempunyai kebijaksanaan, keyakinan, semangat untuk mengembangkan kebajikan dalam diri mereka, mereka yang memiliki pemahaman yang dalam tentang Dhamma, baik tentang Lima Kelompok maupun tentang Rupa-Nama (materi dan pikiran), akan memperoleh kebahagiaan.
Biasanya orang menginginkan segala sesuatu tetapi tidak mau benar-benar mengupayakannya. Rata-rata orang menginginkan segala segi secara expres
. Mereka selalu terperangkap oleh emosi-emosi lama mereka.
Padahal jika kita ingin memperoleh keadaan pikiran yang baru, yang bajik, kita harus mulai melakukan banyak perbuatan yang baik.
Kita harus berusaha untuk terus berlatih agar ketidak-pastian itu terhapus dan Kebenaran pun terwujud.
Misalnya, kita tidak pasti apakah duduk bermeditasi akan membawa kedamaian... Namun setelah kita duduk... O, ternyata kedamaian memang muncul. Lalu, kita merasa yakin dan mulai menerima hal itu benar.
Usaha kita untuk berlatih meditasi siang malam bisa dianggap sebagai jasa kebajikan baru dikehidupan ini. Baik kesedihan maupun kegembiraan yang merupakan hasil-hasil dari karma di kehidupan ini pun juga termasuk jasa kebajikan yang baru.
Setelah lama berlatih, terbentuklah harta karun di dalam diri, yang disebut 'Harta Tertinggi'. Harta inilah yang mengisi pikiran dan kemudian berubah menjadi sila, konsentrasi, Jalan dan Buahnya.
Mereka tidak akan menghargai kedamaian dan tidak akan menghargai jalan keluhuran.
Karena otomatis mereka akan salah memahaminya.
Salah memahami Buddha, Dhamma dan Sangha serta Ajaran Buddha menunjukkan bahwa betapa dangkalnya jasa kebajikan mereka di kehidupan lampau.
Tak seorang pun bisa membujuk mereka untuk berusaha lebih memahami Dhamma ataupun bermeditasi, karena mereka tidak dapat melihat manfaat dari itu semua.
Mereka bahkan tidak akan senang bila melakukannya.
Pada akhirnya, mereka tidak akan dekat dengan Tiratana.
Sebaliknya, mereka yang telah terbiasa mengembangkan kebajikan, Pikiran mereka akan tertarik pada perbuatan baik sesuai dengan Hukum Karma.
Orang- orang seperti ini ingin melakukan lebih banyak dan makin banyak lagi kebajikan.
Mereka akan bahagia dengan cara kehidupan seperti ini.
Sebaliknya, mereka tidak akan bahagia melakukan perbuatan buruk
Hal yang berlawanan juga berlaku untuk orang-orang yang belum mengembangkan kebajikan dalam diri mereka.
Semua orang berbeda satu sama lain, beberapa memiliki lebih banyak kewaspadaan dan kebijaksanaan. Tidak semuanya sama, karena pikiran mereka pun berbeda. Orang yang tidak bisa menembus intisari Dhamma tidak mungkin bisa menyadarinya.
Tetapi mereka yang mempunyai kebijaksanaan, keyakinan, semangat untuk mengembangkan kebajikan dalam diri mereka, mereka yang memiliki pemahaman yang dalam tentang Dhamma, baik tentang Lima Kelompok maupun tentang Rupa-Nama (materi dan pikiran), akan memperoleh kebahagiaan.
Biasanya orang menginginkan segala sesuatu tetapi tidak mau benar-benar mengupayakannya. Rata-rata orang menginginkan segala segi secara expres
. Mereka selalu terperangkap oleh emosi-emosi lama mereka.
Padahal jika kita ingin memperoleh keadaan pikiran yang baru, yang bajik, kita harus mulai melakukan banyak perbuatan yang baik.
Kita harus berusaha untuk terus berlatih agar ketidak-pastian itu terhapus dan Kebenaran pun terwujud.
Misalnya, kita tidak pasti apakah duduk bermeditasi akan membawa kedamaian... Namun setelah kita duduk... O, ternyata kedamaian memang muncul. Lalu, kita merasa yakin dan mulai menerima hal itu benar.
Usaha kita untuk berlatih meditasi siang malam bisa dianggap sebagai jasa kebajikan baru dikehidupan ini. Baik kesedihan maupun kegembiraan yang merupakan hasil-hasil dari karma di kehidupan ini pun juga termasuk jasa kebajikan yang baru.
Setelah lama berlatih, terbentuklah harta karun di dalam diri, yang disebut 'Harta Tertinggi'. Harta inilah yang mengisi pikiran dan kemudian berubah menjadi sila, konsentrasi, Jalan dan Buahnya.
Komentar
Posting Komentar