Terkadang hidup terasa sangat melelahkan, semua jalan terasa buntu dan ingin rasanya untuk menyerah.
Rasanya untuk bernafas pun sulit dan ingin lari.
Beberapa orang melaluinya dengan memilih menenangkan diri, mencari teman yang bisa memberi masukan yang berarti, ada yang memilih mencari orang tuanya untuk bercerita dan meminta masukan, dll.
Tapi beberapa orang melaluinya dengan cara yang salah seperti mabuk-mabukan, nge-drugs, spend the night with one night stand, etc....

Beberapa hari yang lalu, aku pun mengalaminya.
Kepala terasa mumet dan seperti biasa, aku ugal-ugalan di jalan dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Tiba-tiba, sebuah angkot di depanku berhenti tiba-tiba dengan posisi agak miring ke kiri.
Sedangkan di sebelah kanan, ada sebuah trotoar pemisah jalan yang cukup tinggi.
Terdesak oleh jarak yang cukup dekat, ditambah Aku tidak bisa membanting setir lagi ke kanan atau ke kiri, karena semuanya hanya akan berujung tabrakan, akhirnya aku hanya bisa berusaha menghentikan mobilku....(thank God, untung gas dan rem bertetangga)
And.....braaag!!....(nabrak, deh)
But oppsss.....dari spion, aku melihat sebuah truck besar berwarna kuning juga sedang berlaju kencang dan dekat, tepat di belakang mobilku.
Untuk sepersekian detik, i'm smiling....horeeee.... i will be free....And i close my eyes...
Tapi sepersekian detik berikutnya, aku teringat....bagaimana dengan my responsibility ???
And i'm open my eyes again....and....OMG....aku yakin jarak antara mobilku dan truck tersebut tidak sampai satu meter lagi !!!!
Akhirnya aku menutup mata lagi dan berkata dalam hati...yang harus terjadi, terjadilah....
And.....braaaag !!! again ( kali ini, aku yang ditabrak)
But Thank God again, i'm still alive.
Kejadian tersebut begitu cepat....
Sejak itu aku lebih banyak merenung.....
Jika saat itu, terjadi sesuatu padaku? Pantaskah???
Untuk apa aku hidup ??
Sebuah pertanyaan yang baru-baru ini juga pernah dilontarkan teman kepadaku....

Tiga minggu yang lalu, seorang sahabat menelponku dengan suara sedih....
"Kau benar, ada sesuatu yang suamiku sembunyikan dariku. Dia nge-drugs, selingkuh, bahkan dia sampai memukulku...."
Aku turut bersedih untuknya. At least a few month ago, aku sudah memperingatkannya untuk siap mental and something will happen....
Akhirnya aku menemui dia. Tubuhnya menjadi sangat kurus dan berantakan.
Dan dia bertanya kepadaku," Untuk apa kita hidup?"
"Untuk kasusmu, kau harus hidup demi keluargamu yang selalu setia mensupport dan  yang terutama untuk anakmu. Ingat, anakmu baru setahun lebih !!!"
Aku bisa melihat tatapan kosong di matanya dan aku harus berusaha menyadarkannya kembali.
"Apa yang terpenting dalam hidupmu ? Anakmu bukan ?? Apakah kau tidak ingin melihat dia besar dan menikah ? Apakah kau tega mengecewakan keluargamu ?"
Dia menatapku lagi....
And i said,"Kau harus bahagia. Show Him !!!"


Hidup kita terus berputar seperti roda, ada saatnya kita di atas, ada pula masa - masa kita berada di bawah.
Saat berada di bawah, kita merasa menderita, hancur, bahkan sampai ingin memaki Tuhan dan dunia.
Tapi cobaan datang pada kita bukan tanpa maksud, karena itu semua adalah ujian kenaikan tingkat sebagai manusia.
Mau nga mau, cobaan akan datang ke hidupmu.
Dan adalah pilihanmu menganggapnya sebagai musibah dan tetap terpuruk atau mencari "kekuatanmu" sendiri untuk memenangkan ujianmu itu.
Apa yang terpenting dalam hidupmu?
Apa cita-citamu?
Jadikan itu sebagai "kekuatan" yang membuatmu tetap berdiri tegak.
Kebahagiaan yang diperoleh dari penderitaan adalah sebuah bentuk perubahan.
Ya, penderitaan membuat kita berubah dalam berpikir, bersikap, bahkan terkadang kita menjadi lebih mendekatkan diri ke sisi spritual, menjadi manusia yang lebih banyak bersyukur dalam suka maupun duka.

So, syukurilah saat kau berada "di atas" maupun "di bawah", karena keduanya memiliki tawa bahagia untuk merubah kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Komentar